Saat Langkah Menjadi Pesan, Bakiak di Semarang dan Harmoni Komunikasi Islami


 BAKIAK DI KOTA SEMARANG, OLAHRAGA TRADISIONAL YANG MENGUATKAN KOMUNIKASI KOLEKTIF DAN BERNILAI ISLAMI 



Semarang – Di tengah arus modernisasi yang kian deras, banyak tradisi lokal perlahan tergeser dan dilupakan. Padahal, di balik permainan permainan sederhana yang diwariskan turun temurun, tersimpan nilai sosial, budaya, bahkan spiritual yang relevan hingga hari ini. Salah satunya adalah bakiakolahraga tradisional yang bukan hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga menuntut kekompakan, komunikasi, dan kebersamaan. Di Kota Semarang, bakiak hadir bukan sekadar sebagai permainan rakyat, melainkan sebagai medium komunikasi kolektif yang mencerminkan harmoni dan nilai nilai Islami dalam kehidupan bermasyarakat.

Permainan bakiak menempatkan beberapa orang dalam satu papan panjang yang harus digerakkan secara serempak. Seluruh peserta dituntut untuk berkoordinasi, menjaga ritme langkah, dan saling mendengarkan. Kesalahan kecil satu anggota dapat membuat seluruh tim kehilangan keseimbangan, sehingga komunikasi antar pemain menjadi kunci utama.

Dalam kajian ilmu komunikasi, bakiak merupakan contoh konkret dari komunikasi kelompok dan komunikasi nonverbal. Gerak kaki, hentakan ritme, ekspresi, hingga aba aba singkat menjadi media penyampai pesan. Peserta harus menyamakan makna dari setiap sinyal yang muncul, sekaligus membangun kepercayaan agar langkah mereka tetap selaras.

Di Semarang, bakiak sering hadir dalam acara kampung, kegiatan karang taruna, hingga festival budaya di tingkat kelurahan. Permainan ini terbukti mampu memecah sekat antar generasi dan sosial, karena membutuhkan kerja sama penuh. Ketika satu tim melangkah di atas bakiak, mereka belajar untuk memimpin, mendengarkan, beradaptasi, dan berkomunikasi secara harmonis.

Dari perspektif Islam, nilai nilai yang muncul dalam permainan bakiak sejalan dengan semangat ukhuwah, ta’awun (saling menolong), dan syura (musyawarah). Langkah yang kompak mencerminkan pentingnya persatuan dalam mencapai tujuan bersama. Kebersamaan yang tercipta dalam permainan ini juga mengajarkan adab, kesabaran, serta sikap saling percaya nilai-nilai yang turut ditekankan dalam ajaran Islam.

Kembali populernya bakiak di Kota Semarang menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan ruang interaksi yang lebih dekat dan manusiawi. Di era teknologi yang membuat komunikasi serba instan dan individual, bakiak menghadirkan dinamika komunikasi langsung yang hangat dan penuh makna.

Lebih dari sekadar permainan, bakiak menjadi simbol bagaimana budaya, komunikasi sosial, dan nilai-nilai keislaman dapat berpadu dalam satu aktivitas sederhana. Melalui olahraga tradisional inilah masyarakat kembali belajar melangkah bersama secara ritmis, selaras, dan penuh kebersamaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar